JAKARTA – Pimpinan Pusat Kolektif KOSGORO 1957 menilai penyebaran hoax dan disinformasi di ruang publik digital saat ini sudah menjadi ancaman serius terhadap persatuan dan kedaulatan bangsa. Karena itu, peran aktif pemuda sangat dibutuhkan untuk menjadi penjernih informasi.
Hal tersebut mengemuka dalam Diskusi Publik yang digelar Pimpinan Pusat Kolektif KOSGORO 1957 pada tanggal 27 Juli 2026 di Jakarta. Diskusi mengusung tema “Peranan Pemuda KOSGORO 1957 Dalam Memerangi HOAX di Ruang Publik Untuk Menjaga Kedaulatan NKRI.”
Ketua Pimpinan Pusat Kolektif KOSGORO 1957 dalam sambutannya mengatakan, ruang digital saat ini telah bertransformasi menjadi ruang politik dan sosial baru. Di ruang inilah pertarungan narasi, adu opini, hingga penyebaran informasi bohong terjadi setiap hari.
“Hoax hari ini bukan sekadar berita bohong. Ia adalah senjata untuk memecah belah, merusak kepercayaan, dan melemahkan kedaulatan negara. Pemuda tidak bisa hanya jadi penonton. Pemuda KOSGORO 1957 harus jadi garda terdepan yang meluruskan dan mencerahkan,” ujarnya.
Diskusi ini menghadirkan akademisi komunikasi, pegiat literasi digital, praktisi media, serta ratusan kader KOSGORO 1957 dari berbagai daerah secara luring dan daring.
Para narasumber menekankan tiga hal penting.
Pertama : peningkatan literasi digital harus dimulai dari lingkungan keluarga, kampus, hingga komunitas.
Kedua : organisasi kepemudaan perlu membentuk tim respons cepat untuk meluruskan hoax yang menyasar isu kebangsaan.
Dan Ketiga : perlu ada produksi konten-konten positif yang masif untuk mengimbangi narasi negatif di media sosial.
Menurut KOSGORO 1957, melawan hoax adalah bagian dari bela negara di era modern. Ketika masyarakat mudah terprovokasi oleh informasi yang tidak benar, maka stabilitas sosial dan politik bisa terganggu.
Sebagai tindak lanjut, Pimpinan Pusat Kolektif KOSGORO 1957 akan meluncurkan program “#CekDuluSebarKemudian” dan “Sekolah Literasi Digital” di tingkat desa dan kampus. Program ini menyasar kader dan masyarakat umum agar lebih kritis sebelum membagikan informasi.
“Kami tidak ingin pemuda hanya melek gadget, tapi buta informasi. KOSGORO 1957 berkomitmen membangun ekosistem digital yang sehat, beretika, dan berlandaskan Pancasila,” tambah pimpinan pusat.
Diskusi ditutup dengan deklarasi bersama para peserta untuk menolak segala bentuk hoax, ujaran kebencian, dan propaganda yang memecah belah bangsa.



